Friday, 14 April 2017

Pantai Nepa dan Hutan Kera Nepa

Pantai Nepa dan Hutan Kera Nepa - Ketika kamu berkunjung ke daerah Madura jangan lupa untuk menyempatkan diri untuk berkunjung ke tempat-tempat wisata Madura karena begitu banyak keindahan alam yang ada naun tidak banyak orang mengetahuinya dan baru-baru ini baru banyak tereksplor oleh banyak wisatawan terutama pemuda pemudi yang gemar menjejaki tempat-tempat baru. Di Sampang terdapat tempat wisata yang cukup memanjakan mata dan pikiran kamu karena banyaknya tempat wisata dengan tempat berdekatan dan mudah dijangkau bagi orang-orang yang belum begitu tahu daerah madura karena tidak terlalu jauh dari jalan raya, salah satunya Pantai Nepa dan Hutan Kera Nepa.

Pantai Nepa dan Hutan Kera Nepa sesuai namanya, merupakan pantai dan hutan yang terdapat Kera didalamnya. Nepa menurut warga setempat berasal dari kata "Nipah" yakni nama sebuah pohon namun dibaca "Nepa" oleh warga setempat. Berikut akan kami berikan ulasan singkat perihal asal usul Pantai Nepa dan Hutan Kera Nepa yang terletak didesa Batioh kecamatan Banyuates Kabupaten Sampang Madura.
Source : IG @a.maulidiyah
Pinggiran Pantai Nepa
Konon di tanah Jawa terdapat sebuah kerajaan Madangkamulan dengan nama istana Keraton Gilingwesi yang dipimpin oleh seorang Raja Sangyangtunggal. Suatu malam, puteri cantik jelita dari Baginda Sangyangunggal bermimpi dijatuhi bulan purnama dan masuk kedalam tubuhnya dan anehnya tidak lama dari mimpi ini, Sang Puteri tiba-tiba hamil yang menyebabkan Sang Baginda Sangyangtunggal marah besar dan saat ditanyai siapa ayah dari anak dalam kandungan puterinya itu, Sang Baginda Sangyangtunggal tambah murka karena penjelasan dari Sang Puteri menurutnya tidak masuk akal.

Kehamilan yang semakin besar membuat Baginda Sangyangtunggal mengutus Patih kerajaan yang bernama Patih Pranggulang untuk membunuh puteri Baginda di Hutan dan membawa kepala Puterinya menghadap Raja sebagai bukti selesainya tugas Patih namun anehnya ketika di Hutan Sang Patih berkali-kali gagal mengayunkan pedangnya ke leher Puteri dan pedangnya terpental jauh dan dari situ Sang Patih berpikir bahwa kehamilan itu bukan kehamilan biasa melainkan hasil dari kejadian yang luar biasa. Akhirnya Sang Patih berbalik melindungi Sang Puteri dengan mengganti pakaian kerajaannya dengan kain Poleng dan sejak itu pula Patih Pranggulang dikenal sebagai Kyai Poleng dan membuat rakit dari bambu untuk Puteri menyeberangi laut ke sebuah tempat yang bernama Gunung Geger dan lahirlah bayi yang diberi nama Reden Segoro, konon dipercaya merekalah nenek moyang penduduk Madura. 

Baca Juga :


Saat Raden Segoro berumur 2 tahun bemain di pinggiran pantai tiba-tiba 2 naga besar mengejarnya dan Raden segera memberi tahu Sang ibu lalu dipanggillah Kyai Poleng yang sudah kembali ke pulau Seberang dengan mantera yang teah diajarkan dahulu kemudian datanglah Kyi Poleng dan menyuruh Raden Segoro untuk melawan yang akhirnya berhasil menghempaskan 2 naga tersebut ke tanah dan berubah menjadi 2 tombak yang mana diberi nama Alugora dan Nenggala.
Source : IG @mirasahid
Patilasan Raden Segoro

Saat Raden Segoro berumur 7 tahun, Sang Ibu membawanya mencari tempat lain yang lebih nyaman dan sampailah dipinggiran pantai dan dengan bantuan tombak sakti Raden Segoro, mereka bisa membangun sebuah pondok mereka kesulitan untuk membuat atap kemudian mereka melihat banyak pohon Nipah disekitar mereka dan ternyata sangat kuat saat daunnya dijadikan atap. Oleh karena itu, mereka menamai tempat itu Nepa karena pohon tersebut begitu banyak di tempat itu dan sangat berguna..

Sementara itu, kerajaan Madangkamulan diserang oleh kerjaan seberang yang kuat dan semakin hari kerajaaan Madangkamulan semakin melemah dan Baginda Sangyangtunggal kehabisan akal untuk mengalahkan para penyerang hingga akhirnya mendapat wisik bahwa kerajaan kuat seberang tersebut hanya dapat dikalahkan oleh seorang pemuda kuat yang berada di pulau antara ada dan tiada karena jika air laut pasang maka pulau tersebut seakan tidak ada. Maka tanah yang tidak nyata itu disebut "Lemah Duro" yang akhirnya lama kelamaan menjadi "Madura". Berlangsunglah peperangan antar kerjaan tersebut yang berakhir dengan kemenangan Raden Segoro yang dibantu oleh Kyai Poleng dan dari kemenangan itu akhirnya Baginda Sangyangtunggal mengundang Raden Segoro untuk dijadikan menantunya dan ditanyailah siapa orangtuanya namun Raden tdak dapat menjawab karena tidak tahu siapa ayahnya. Raden Segoro pun pergi untuk bertanya pada Sang Ibu dan diutus pula beberapa prajurit untuk mengikuti Raden Segoro oleh Baginda Sangyangtnggal.
Source : IG @ezraraga
Panorama Pantai Nepa
Tiba di Pondok, Raden memerintahkan para prajurit untuk tidak mengikutinya berbicara pada sang ibu dan agar tidak encuri pembicaraan mereka dan prajurit pun mengiyakan. Raden mendesak Sang Ibu untuk menjawab siapa ayahnya akhirnya Sang Ibu menjawab bahwa ayah dari Raden Segoro adalah seorang siluman hebat seketika Raden pun terkejut tapi tak hanya itu, ternyata para prajurit mengingkari perintah Raden untuk tidak mencuri pembicaraannya dengan Sang Ibu dan hal tersebu membuat Raden Segoro murka lalu mengutuk semua prajurit menjadi kera dan daerah tempat tinggal mereka menjadi hutan. Sedangkan Raden Segoro dan Sang Ibu menghilang karena masuk ke dunia Siluman untuk tinggal bersama Sang Ayah yang tiba-tiba datang menjemput mereka.

Sejak itu lah, para kera menepati hutan kerja dipinggiran pantai yang telah diubah oleh Raden Segoro dengan kesaktiannya. Kera-kera itu pun terus bertambah sampai saat ini, karenanya hingga saat ini para masyarakat sekitar Pantai Nepa dan Hutan Kera Nepa tetap dijaga meski tidak untuk memasuki kawasan tersebut kita tak perlu membayar mahal cukup biaya parkir 5000-10000 tergantung jenis kendaraan kamu. Untuk pemandangan dan kebersihan bisa dikatakan bersih karena tidak ada anggaran yang banyak untuk menjaga fasilitas maupun kebersiham karena yang menjaganya adalah warga setempat dan para pengunjung. Mari kita jaga kebersihan dan fasilitas dimanapun kita berada khususnya alam bebas karena manusia hanya bisa memperindah bukan menciptakannya jadi sayangilah alam agar terus indah dan dapat dirasakan generasi kedepan.

Untuk memanggil kera-kera bisa berikan uang seikhlasnya pada ibu-ibu yang biasanya menyapu Hutan Kera Nepa atau memanggil sendiri dengan berteriak "lalelalelo" berulang-ulang. Kera disini aman asal jangan mengganggu mereka misal memukul atau memancing mereka dengan teledor membawa makanan atau minuman. Jika ingin memberi makanan pada mereka, usahakan selama perjalanan diaruh di tas atau dsembunyikan agar kamu tidak dikejar gerombolan kera tersebut. Begitulah cerita singkat beserta info-info mengenai Pantai Nepa dan Hutan Kera Nepa semoga bermanfaat bagi kamu bersama teman atau keluarga untuk berliburan kesana.


EmoticonEmoticon